21 Oktober 2009
Mobil China, rival yang tak bisa dianggap remeh
Sebagai pemain baru di pasar otomotif nasional, PT Unicor Prima Motor (UPM), anak perusahaan Indomobil Group, ternyata telah mampu menjual 1.000 unit Chery QQ. Angka penjualan itu pun dirayakannya secara semarak beberapa waktu lalu.
Setahun sudah mobil kota dari Negeri Tirai Bambu ini menggoda konsumen sejak dirilis pertama kali September 2006. Indomobil menganggap angka 1.000 bisa dijadikan barometer kesuksesan sebuah produk baru. Apalahi Chery QQ dipasarkan di bawah bayang-bayang kegagalan motor China yang sempat menuai citra sebagai produk murahan yang tak berkualitas.
Sebagai sebuah upaya penetrasi pasar, bisa jadi anggapan kesuksesan Chery QQ ini benar. Namun, sebagai sebuah produk otomotif, Indomobil tidak lantas harus berpuas diri dengan capaian ini. Mobil-mobil China yang dijajakan di Indonesia masih harus diuji ketahanan dan kualitas, juga layanan serta ketersediaan suku cadangnya.
Satu tahun tentu belum cukup untuk mengukur daya tahan mobil kota ini. Sebagai mobil baru, tahun pertama tentu tak butuh banyak penggantian suku cadang. Namun, pada tahun ketiga, mungkin akan banyak suku cadang yang memasuki masa penggantian karena usia pemakaian. Di sinilah kualitas sekaligus komitmen Indomobil membawa merek-merek mobil China ini akan lebih dapat dibuktikan.
Kelompok Indomobil yang kini mengageni tiga merek mobil China yaitu Chery, Great Wall, dan Foton sebenarnya tidak sendirian mengusung mobil China. Adik Kandung Wapres JK, Suhaeli Kalla juga sudah mengantongi izin dari prinsipal produsen mobil China Geely. Pengusaha Bugis ini menggandeng kelompok Astra dengan memanfaatkan fasilitas perakitan di PT Gaya Motor.
Mobil China yang masuk ke Indonesia
Merek Tipe Pesaing
Chery City car QQ Kia Picanto, Hyundai Atoz, Proton Savy
. SUV Tiggo Suzuki Grand Vitara, Honda CR-V
Geely CK 130, CK 150, CK 160 Suzuki Baleno, Toyota Vios, Mitsubishi Lancer, Honda All New City, dan Hyundai Avega
GreatWall Wingle Isuzu D-Max, Nissan Frontier, Ford Ranger, Toyota Hilux, Mitsubishi Strada
Foton Truk ringan Toyota Dyna, Mitsubishi Colt Diesel, Hyundai, Isuzu Elf
Sumber: Pusat Dokumentasi Bisnis Indonesia, berbagai sumber
Rasa penasaran tentu selalu menggelayuti benak calon konsumen mobil China. Bahkan, konon di kalangan pelaku otomotif sendiri banyak yang bertanya-tanya, kok berani-beraninya kelompok Indomobil membawa mobil China? Padahal produk-produk dari negeri ini telanjur dikenal masyarakat sebagai produk ‘kelas dua.’
Gunadi Sindhuwinata Presdir Indomobil Group menegaskan sebagai sebuah industri, China tergolong negeri yang cepat belajar. Jika Amerika Serikat dan Eropa butuh ratusan tahun untuk mendalami industri otomotif, Jepang lebih 50 tahun, dan Korsel sekitar 25 tahun, China hanya butuh waktu 10 tahun untuk mengembangkan kendaraan serba roda ini.
Bagi dia, kasus sepeda motor gagal karena ditangani oleh para trader yang berorientasi jangka pendek mengeruk keuntungan sesaat saat Indonesia dilanda krisis. Bahkan, di negeri asalnya, otoritas industri setempat sempat menertibkan industri rumahan pembuat motor yang hanya bisa meniru yang ujungnya merugikan konsumen.
Ya, urusan mobil berbeda dengan motor. Teknologinya lebih rumit dan cenderung sophisticated. Pasar mobil China sendiri berkembang sangat pesat yang ditandai dengan keberhasilan negara ini menggeser posisi Jepang sebagai pasar otomotif terbesar kedua dunia setelah Amerika Serikat.
Potensi pasarnya yang besar karena berpenduduk terbesar dunia dengan upah yang murah, membuat hampir semua raksasa otomotif menanamkan modalnya di negara ini. Bisa jadi, di sinilah terjadi transfer of knowledge ke industriawan China yang memang gigih dan cepat mau belajar.
Pertanyaannya, akankah kondisi ini akan menjamin bahwa produk mobil China berkualitas?
Prinsipal besar
Jawabnya, bisa jadi iya. Buktinya beberapa perusahaan patungan China dipercaya memasok produk otomotif milik prinsipal besar dunia untuk kawasan tertentu, termasuk Chery yang didaulat Chrysler memproduksi mobil kota untuk pasar Amerika Serikat.
Namun, hal sebaliknya juga bisa saja terjadi. Untuk menekan biaya dan mendongkrak laba, pabrikan China dikhawatirkan akan menurunkan standar atau spesifikasi kendaraannya, untuk negara-negara yang selama ini masyarakat belum ‘aware’ dengan teknologi otomotif.
Apalagi jika negara itu adalah negara berkembang dengan daya beli masyarakatnya yang serba pas-pasan. Disodori mobil murah pun akan dibeli. Kualitas, kenyamanan, dan keamanan yang ditanam di mobil itu soal belakangan.
Terlepas dari itu semua, sebagai pendatang baru di pasar otomotif dalam negeri, kehadiran mobil- mobil China ini memang tidak dapat diremehkan. Para pelaku usaha yang menjajakan mobil dari Negeri Tirai Bambu ini memiliki peluang yang cukup besar untuk merebut hati masyarakat di Tanah Air yang notabene daya belinya tidak berlebih.
Persoalannya, hingga saat ini para penjaja mobil China ini belum ada yang masuk ke segmen mobil tergemuk di negeri ini yaitu jenis kendaraan MPV (multi purpose vehicle). Chery baru dua model yaitu city car dan SUV Tiggo, yang potensi pasarnya relatif kecil. Foton masuk di segmen truk ringan dan Great Wall di kendaraan pikap kabin ganda, sedangkan Geely di segmen sedan.
Untuk dapat mendulang kue penjualan yang besar, mobil China harus masuk ke segmen MPV yang hingga saat ini masih menjadi kendaraan paling favorit dan laris manis di negeri ini. Filosofi yang penting muat banyak menjadi poin penting untuk penetrasi di pasar otomotif negeri ini.
Selain itu, tentu saja para penjaja mobil-mobil China ini harus tetap memerhatikan prinsip lainnya, termasuk penguatan branding dan optimalisasi layanan ke konsumen, mulai pra hingga servis pascapenjualan. Apalagi yang dihadapi adalah merek-merek Jepang yang sudah puluhan tahun menguasai alam bawah sadar calon konsumen otomotif di negeri ini.
Yang pasti, meski datang sedikit terlambat, mobil China bukanlah lawan yang bisa dianggap enteng oleh pabrikan mana pun yang ingin terus eksis di pasar domestik.
Sumber : (ahmad.muhibbuddin@bisnis.co.id)
Tags: Mobil China, rival yang tak bisa dianggap remeh