Apr 29

29 April 2010

Dalam bidang audio, khususnya audio mobil atau audio cars, amplifier biasa dikenal juga dengan sebutan power sound cars. Penggunaan amplifier dalam sistem audio mobil bertujuan untuk dapat menguatkan signal suara sound audio yang berasal dari main source atau head unit yang kemudian akan dialirkan ke speaker audio sound. Jadi amplifier bertugas menerima sinyal suara audio sound dari source dan mengolahnya agar sinyal suara audio car memiliki tenaga yang lebih besar dan kuat sehingga speaker sound mobil mampu mengeluarkan suara yang maksimal karena mendapatkan asupan tenaga yang dibutuhkannya dalam mengeluarkan gelombang suara audio sound.

Amplifier untuk penggunaan audio car, secara umum dikenal dengan jenis multi channel dan monoblock audio sound. Amplifier multi channel umumnya digunakan untuk menguatkan keluaran (output) sinyal car audio dalam bentuk arus listrik ke speaker sound car (Tweeter, Midrange, Midbass ataupun speaker Coaxial), sedangkan untuk yang jenis car sound monoblock, biasa digunakan khusus untuk menguatkan sinyal cars sound yang akan dialirkan ke Subwoofer yang sangat membutuhkan daya yang besar.

Sedangkan secara khususnya, amplifier sound mobil dikenal juga dengan beberapa jenis amplifier, yaitu jenis kelas sound audio A, B, AB, D, Hybrid, Tube (Tabung), sound mobil murah dan masing-masing jenis memiliki karakter, daya output yang berbeda-beda, yaitu :

Class A : Memiliki car sound kualitas yang paling baik untuk menghasilkan kualitas suara. Harga untuk cars sound jenis ini umumnya dibanderol dengan harga yang sangat mahal, akan tetapi itupun tergantung dari merk-nya dan ada juga sound murahnya.

Class B : Tidak cepat panas dan tidak boros tenaga, menghasilkan suara car audio yang cukup baik.

Class AB : Adalah sound car yang paling banyak digunakan oleh pemain cars audio, dapat lebih efisien dan fleksibel untuk digunakan dalam sound cars system dan memiliki kualitas lebih baik dari kelas B.

Class D : Jenis audio cars ini paling banyak dipakai untuk men-drive subwoofer dan digunakan untuk konsep SPL (Sound Pressure Level) karena amplifier cars audio class D memiliki daya (Watt) yang besar dan mampu dibebani hingga dibawah 1 Ohm, sehingga mampu menghasilkan suara bass yang lebih dynamic dan biasanya jenis class D itu adalah monoblock amplifier.

Hybrid : Jenis amplifier ini adalah sound mobil murah yang komponennya elektroniknya menggunakan transistor dan juga tube (tabung), namun tetap dapat dimiliki dengan harga audio murah yang masih terjangkau. Biasanya amplifier jenis Hybrid memiliki harga ± 4 juta-an *(tergantung merk)

Dengan adanya perbedaan kualitas, karakter dan komponen dari tiap jenis amplifier audio mobil murah, membuktikan bahwa kualitas amplifier juga dapat menentukan karakter serta kualitas suara yang dihasilkan dalam sebuah sistem audio mobil murah. Untuk itu sebelum membeli amplifier harus banyak yang dipertimbangkan agar tidak salah pilih, berikut beberapa tips memilih amplifier sound murah :

1. Pilih amplifier dengan nilai RMS (watt) yang besar dan THD-nya yang kecil.
2. Desain dan kualitas bahan juga tetap harus diperhatikan.
3. Sesuaikan daya / RMS amplifier dengan kebutuhan speaker yang akan digunakan.

Terakhir menutup wawancara dengan SO, Johny memberikan informasi bahwa jangan membiarkan sebuah amplifier audio murah tidak terpakai dalam jangka waktu yang cukup lama, karena dapat menyebabkan komponen elektroniknya rusak.

Sumber :  situsotomotif.com

Tags:

Apr 06

06 April 2010

Pasang velg mobil di penjual velg berdiameter besar dengan dinding ban super tipis memang keren dan jadi tren. Modifikasi belum kelar kalau velg racing dari penjual pelek belum ditukar. Semakin tipis dinding ban, semakin besar pelek racing dari penjual velg mobil, makin tinggi gengsinya.

Tren pelek racing mobil dari penjual pelek mobil ini mulai berangkat dari ajang balap yang dengan cepat menular ke ruang-ruang modifikasi. Di sirkuit, velg mobil besar dari penjual pelek racing dengan dinding ban tipis (profile rendah) dan tapak lebar sangat menguntungkan pembalap karena mobil jadi lebih lincah dan responsif ditikungan.

Selain itu diameter ban nyaris tidak berubah, jadi tidak perlu menyesuaikan lagi speedometer dan odometer. Velg racing besar dari penjual velg racing juga tampil tampil sportif dan jantan. Tak dipungkiri, faktor inilah pendorong utama maraknya tren velg racing mobil dari penjual velg ini dimasyarakat.

Mengganti pelek racing bawaan pabrik dari penjual pelek  (OE/original equipment) dengan yang berdiameter lebih besar dikenal sebagai plus-sizing. Dalam khasanah istilah ini lalu dikenal plus-one, artinya menambah diameter velg racing mobil di penjual velg mobil 1 inch dari OE. Contoh dari dari 15 inch jadi 16 inch. Demikian pula plus-two, menambah dua inch, dari 15 inch ke 17 inch, dan seterusnya.

Ternyata menurut pengujian Consumer Report, lembaga perlindungan konsumen di USA, plus-one terbukti menghasilkan keuntungan terbesar dari sisi peforma. Plus-two dan seterusnya hanya memberi tambahan daya cengkram sedikit sementara kenyamanan mengemudi, hydroplaning resistance, dan traksi anjlok. Harga yang harus dibayar juga lebih mahal. Jadi semakin besar tidak selalu semakin menguntungkan. Plus-sizing juga tidak direkomendasikan untuk SUV kecuali memang option dari pabriknya.

Karena itu, kalau sudah puas dengan handling dan kenyaman berkendara mobil anda, lembaga itu menyarankan untuk melupakan plus-sizing. Setia saja dengan OE. Kalau sudah tahu resikonya, dan tetap ‘emoh’ dengan ban OE, tiba saatnya untuk mengunjungi toko ban/modifikator. Mereka akan menawarkan pelek racing mobil dari penjual pelek mobil dan ban yang cocok berdasarkan ban OE. Sebagai patokan, penambahan diameter peleg 1 inch di penjual pelek racing, di padukan dengan menurunkan tebal dinding ban antara 5 – 10 persen dan penambahan lebar tapak ban 10 milimeter. Pastikan pula speed rating dan load rating ban baru harus lebih tinggi dari ban asli. Perlu diketahui, plus sizing selalu merubah overal diameter ban. Sulit agar sama persis dengan OE. Hal ini akan mempengaruhi banyak hal termasuk speedometer.

Periksa juga peleg yang di incar di penjual velg racing. Kebanyakan peleg ini dibuat dari aluminium atau campuran aluminium dan baja. Masalahnya kualitasnya sangat bervariasi dari yang nyaris sempurna hingga segetas tempayan. Untuk memeriksa, mulai dengan bertanya bagaimana peleg itu dibuat. Peleg tempa (forged wheel) paling kuat dan termahal. Pressure cast wheel juga cukup, selain lebih kuat juga lebih ringan dari peleg cetak (cast wheel). Peleg terakhir ini dibuat dengan mengalirkan cairan logam ke cetakan.

Sumber :  http://ebookkeluarga.wordpress.com/

Tags: , ,

Apr 01

01 April 2010

Andreas Tjahjadi dari klinik Audio Plus (Greenville, Jakarta Barat) kasih referensi OEM look dengan sodoran speaker mutu apik pada kisaran harga 2 jutaan perak. Posisi tweeter maupun mid (2 way) tidak merubah dudukan aslinya. “Speaker depan jadi awal kalau kondisi orisinal tak mau diutak-atik,” sebutnya. Kalau mau lebih berdentam lagi, silakan tambahkan power serta subwoofer. Untuk 1 unit power bisa pakai yang 4 kanal untuk front speaker dan sub. Lebih qualified lagi kalau ada dua unit power yang masing buat sub (paling tidak 250 Watt) maupun front speaker (bisa dengan 350 Watt). Oya, subnya sendiri pakai saja ukuran 10 inci. Tapi kalau head unit enggak diganti apakah cukup? “Cukup, nanti fine tuningnya yang jadi penentu,” yakin instalatur yang mahir main piano ini. Tak lupa disebutkan bahwa angka sampai 10 jutaan perak jelas agar bisa mumpuni buat mobil sekelas Lancer itu sendiri. MOTOR sempat jajal bikin tune dasar. Tekan tombol head unit yang kanan untuk munculkan “type”, pilih hip hop. Tekan lagi, muncul “field stage” untuk pilh normal. Tekan lagi muncul “bass”, putar sampai +6. Lagi, tekan muncul “mid” lantas putar ke +5. Pencet kembali buat munculkan “treble”, lanjut putar “fader” ke F2. Terakhir, tekan untuk munculkan “balance” untuk putar lagi ke R1

Sumber  : eRIE

Tags:

Mar 12

12 Maret 2010

Benedictus Evan, pemuda asal Jakarta yang kini mengenyam pendidikan negeri Paman Sam, tepatnya di Seattle. Ketertarikannya pada mobil convertible menjatuhkan pilihannya pada mobil asal Bavaria ini. “SLK itu mobilnya kecil, enak dibawa kemana-mana, retractable roof dan juga masih jarang yang modif di sini,” buka Evan pada pembicaraan melalui MSN messenger. Kebetulan ketika menginjakkan kaki pertama kali di Seattle pada 2007, ada anak Indonesia yang mau lepas mobil berkelir silver ini. “Langsung deh dinego,” tambah Evan. Awalnya stock, namun dasar anak Indo, velg ada menu utama. Dan lagi rasanya belum ganti velg kalau belum nyobain ukuran 20 inci. Tapi kenapa harus 20 inci, Bro? Setelah join salah satu forum Mercedes, Evan melihat salah satu SLK berkode R171 ini yang menggunakan 20 inci, “Di Aussie ada yang pake 20, dan jatuhnya nampol banget,’’ cuap Evan. Kemudian ia mendapatkan velg keluaran iForged ring 20 dari salah satu temannya, finishing-nya cocok dengan yang ia mau, bibir krom plus disk matt black. Namun ternyata banyak masalah yang timbul setelah instalasi. Usut punya usut ternyata spek awal velg tersebut adalah milik Audi A4, jadi offset-nya tidak pas, akibatnya sering mentok fender dan tidak compatible dengan penggunaan coilover. Akibat banyak nilai minusnya inilah, Evan akhirnya harus melawan egonya. Research melalui forum pun diulangi, sampai akhirnya ketemu desain palang lima milik DPE dengan finishing serupa iForged. Tapi kali ini dengan ukuran 19. Melalui Darwin dari bengkel Sonic MS, order DPE pun dilakoni dengan requirement fender pas bibir velg dan juga big brake kit clearance agar kaliper Brembo tidak mentok. Awalnya pada ring 20, ia harus mengaplikasi spacer 10 mm untuk mengakomodir kaliper Brembo. Menurutnya dengan lebar 8,5 dan 10 inci, velg ring 19 inci terlihat lebih gambot, dan jauh lebih proporsional dibanding ring 20 inci. Hasilnya, kini mobil lebih mudah dikendarai, “Enggak ada tuh cerita mentok fender lagi,” sahut Evan. Yup, semua itu berkat ukuran velg DPE yang memang telah disesuaikan dengan spek kaki-kaki SLK. So, it shouldn’t be a problem to fit in.

Sumber  : Muhammad Balbed

Tags:

Feb 18

18 Februari 2010

Secara prinsip, rem cakram mengkonversi energi kinetik menjadi energi thermal. Adanya gesekan (friksi) antara brake pad dengan cakram (disc rotor), yang berputar dengan nilai torsi (torque) yang cukup besar. Wajar, ketika pengereman, permukaan cakramnya bisa membara. Sungguh seram! Karena itu, rem dirancang presisi dan tahan lama. Lantas bagaimana dengan kaliper? Sebagai ‘perpanjangan tangan’ sistem hidrolik rem, memiliki ujung pada piston penekan. Desain kaliper (bentuk dan dimensi) utamanya, menyesuaikan space sesuai mounting rem mobil tertentu. Jadi, kaliper tidak ada istilah universal atau bisa dipakai mobil jenis apa saja buat perangkat ini. Untuk kemampuan yang makin yahud, diameter cakram dan luas permukaan brake pad bisa diperbesar. Di data spek produk, piston pada kaliper suka disebut pot. Kuantitas pot sebanding dengan ukuran brake pad yang dipakai. Brake pad semakin besar, sudah pasti membutuhkan jumlah piston yang memadai. Di pasaran sendiri, terdapat 5 jenis pot; dari single pot, 2 pot, 4 pot, 6 pot dan 8 pot. Jenis single pot dan double pot adanya cuma di versi OEM. Makin besar dan banyak jumlah pot-nya, maka kemampuan rem tersebut makin dikhususkan buat mesin-mesin bertenaga bengal, dan berbobot berat. Sebab paduan keduanya bisa menghasilkan momentum yang besar, yang hanya bisa ditaklukkan oleh sistem deselerasi yang besar pula

Sumber  : Rudy

Feb 11

11 Febuari 2010

Di tengah semakin maraknya pilihan produk mobil yang ditawarkan kepada masyarakat saat ini, PT Honda Prospect Motor (HPM) kembali membuktikan keunggulan produk-produknya. Sebagai bukti, Honda pada bulan September ini menerima tiga penghargaan dari ajang The 4th Top Gear Best Choice 2005 yang diselenggarakan oleh majalah Top Gear Indonesia dan lima penghargaan dari Autobild Award 2005 yang diadakan majalah Autobild Indonesia.

Penyerahan piagam penghargaan untuk The 4th Top Gear Best Choice dilakukan di kantor pusat PT HPM, Sunter, 9 September 2005, oleh pemimpin redaksi Top Gear Indonesia, Willy Dreeskandar. Sementara piagam penghargaan Autobild Award 2005 diserahkan di tempat yang sama pada 15 September 2005, oleh pemimpin redaksi Autobild Indonesia, Hendra Noor Saleh. Kedua penghargaan tersebut diterima oleh Kenji Otaka, President Director PT HPM, dan Jonfis Fandy, Sales & Marketing General Manager PT HPM. Dalam ajang Autobild Award 2005, Honda juga mencatat prestasi sebagai ATPM yang paling banyak menerima penghargaan.

Honda Jazz New dari penjual Honda Jazz kembali mendominasi penghargaan yang diterima all Honda Jazz dari penjual Jazz pada tahun ini. Salah satu penghargaan untuk model Honda Jazz dalam Autobild Award 2005 diperoleh melalui kategori “Best Fuel Consumption”. Penghargaan tersebut diterima Honda Jazz 2009 dari penjual Honda Jazz berdasarkan hasil test drive Honda Jazz Jakarta yang dilakukan majalah Autobild pada 125 mobil dari semua kategori. Ini merupakan kedua kalinya secara berturut-turut Honda New menerima penghargaan untuk efisiensi bahan bakar terbaik dalam ajang Autobild Award semenjak mobil Jazz New dari penjual Jazz ini diluncurkan di Indonesia.

Honda Jazz juga berhasil mempertahankan prestasi all Honda sebagai all Jazz yang terbaik untuk kategori “Mini MPV” dalam Autobild Award 2005. Pada ajang yang sama di tahun lalu, model Jazz juga meraih penghargaan Jazz 2009 untuk kategori “Mini MPV”, di samping menerima penghargaan model Honda tertinggi, yaitu “Car of the Year” untuk tahun 2004. Pada tahun 2005 ini, Jazz Jakarta kembali menerima salah satu penghargaan paling bergengsi dalam Autobild Award, yaitu “Reader’s Choice Award”, dimana pemenangnya ditentukan oleh pilihan pembaca Honda Jazz New melalui SMS.

Sementara keunggulan all Honda Jazz dalam performa dinamis model Honda Jazz dengan disain kompak Honda Jazz 2009 dan Honda Jazz Jakarta stylish yang membuat Honda New nyaman dan Jazz New menyenangkan untuk dikendarai, dihargai dengan penghargaan “Fun & Compact” dalam The 4th Top Gear Best Choice 2005.

Jonfis Fandy, Sales & Marketing General Manager PT HPM mengatakan, “Kami sangat bangga atas prestasi Honda Jazz, terutama karena kesuksesan all Honda meraih penghargaan Best Fuel Consumption. all Jazz, yang efisiensi bahan bakarnya telah teruji secara nasional dan internasional, memberikan jalan untuk berkendara Jazz Jakarta sambil tetap berhemat bahan bakar. Terpilihnya model Jazz sebagai kendaraan favorit pembaca menunjukkan bahwa masyarakat kini telah lebih rasional dalam memilih kendaraan model Honda Jazz 2009.”

Sumber :  http://www.honda-indonesia.com/

Tags:

Feb 09

09 Febuari 2010

Tiga pemilik Jazz yang disatukan dalam naungan klub Genji ini telah membenahi mobilnya masing-masing dengan penambahan perangkat audio. Walau ketiga teman satu klub, buat urusan racikan setting suara punya menu berbeda. Utamanya paling terlihat pada penataan boks yang juga berbeda. Iman yang diwakili Harry, staff kerjanya, ketika pemotretan andalkan boks di sisi samping bagasi, Fendra Hartanto manfaatkan tempat ban serep untuk taruh boks dan Handy Setiawan menaruh boks kanan kiri di bagasinya. Kita mulai saja kuliti boks sub besutan Iman yang dibuat dengan sistem transmission line untuk SQ yang mengandalkan lubang port dengan permukaan persegi panjang. Sistem ini dilakukan Iman untuk mendapatkan bass yang bisa mencapai 40 Hz. Sangat rendah! Sedangkan penempatan subnya berada di sebalah kiri dengan volume 3 kubik kaki. Hal ini dilakukan berdasarkan spesifikasi sub Crescendo 10 inci. Berikutnya beralih ke besutan Fendra yang membuat boks sealed dengan sistem yang inovatif. Ruang pada ban serep, tepatnya di tengah velg dibuatkan boks sealed 1 kubik kaki, dengan 15 lapisan fiberglass setebal 2 cm agar boks rigid. Bagian atasnya diberi penutup kayu yang dilubangi sebanyak 15 buah dengan diamater 5 cm. Walaupun ditutup peranan sub tak terlalu terganggu lantaran adanya lubang yang bisa dilewati suara bass. Karakter suara rendah secara mendasar tak terlalu berpengaruh walau suaranya mesti melewati celah. Sedangkan tunggangan Handy diset mobilnya dengan karakter yang berbeda dari dua temannya di atas. Aliran SPL yang dipilihnya membuat, ia rela menempatkan dua sub boks sistem ported dengan ukuran lubang berdaimeter 8 inci pada kanan kiri bagasi. Untuk hal ini mesti ditebus dengan hilangnya ban serep. “Tak masalah karena memang sengaja buat diikutkan kontes SPL,” tutur Handy. Dan berkat pengorbanannya, gelegar suara sebesar 148 dB, walau dengan kosmetik full diraihnya. “Masih jarang yang bikin ported bisa tembus 148 dB,” tukas pria yang berkantor di Glodok, Jakarta Barat. Dari ketiga penempatan boks ini kita dapat melihat sistem yang diterapkan difungsikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing pemilik. Khusus mobil Iman, dapat dilihat untuk dapat bass rendah dengan sistem boks transmission line, fungsi bagasi dan ban serep masih bisa difungsikan. Sedangkan pada mobil Fendra, fungsi bagasi dan ban serep sama sekali tak terganggu. Terakhir pada mobil Handy, fungsi bagasi dan ban serep jelas terganggu, namun sistem SPL yang diperolehnya benar-benar memukau.

Sumber  : Rahmat

Tags:

Jan 28

28 Januari 2009

Namun yang punya modul pintar tak banyak. Caska merupakan salah satu merek yang mengembangkan kamera parkir yang diberi julukan Intelligent Parking Assistant System (IPAS). Sebuah sistem pengontrolan parkir yang memakai kamera dengan modul yang bisa mempertonkan jarak di belakang dan menginformasikan sudut belok setir. Untuk menginformasikan jarak benda di belakang, pada layar monitor TV akan muncul gambar trapesium yang terdiri dari 6 lapisan warna biru. Lapisan pertama 1 meter, kedua 2 meter dan sampai lapisan ke-6, jarak paling jauh yang bisa ditangkap dengan jernih oleh kamera. Semakin jauh jarak pandang maka warna birunya semakin muda. Dengan melihat lapisan warna biru pengemudi dapat melihat dengan mudah jarak benda di belakangnya ketika parkir. Poin berikut yang jadi keunggulan IPAS adalah ketika setir dibelokkan, secara otomatis akan muncul garis belokannya. Kalau belok kanan, maka akan muncul garis merah di pinggir trapesium yang akan berbelok pula. Dengan teknologi ini, kita dapat mengetahui kedudukan roda melalui layar monitor TV. Untuk memfungsikan alat ini, perangkat TV standar mesti dikoneksikan ke control box. Dari control box, lalu dikoneksikan ke aki 12 volt, modul sensor dan kamera parkir. Agar mudah mendapatkan sudut kamera yang pas dengan obyek di belakang, kamera sudah diset untuk di pasang di atas plat nomor. Dua mobil yang pernah dipasangi IPAS adalah Honda ‘new’ Accord dan CR-V. PROPERTI: PT. CLARINDO INTI AUDIOTAMA Gading Kirana Timur Blok H13 No.26-27 Kelapa Gading, Jakarta Utara Tlp. (021) 4534788

Sumber  : Rahmat

Tags: